Bocah Besi
Ditulis marhamahza di Uncategorized pada November 7, 2010
Banyak orang yang kemudian memilih pilihan hidup yang berbeda, lebih karena kebutuhan dan desakan hidup yang memaksa. Kadang pilihan hidup itu sangat aneh, sangat jarang dilakoni orang-orang, dan kadang terlalu beresiko. Jikalah pilihan hidup itu ditujukan pada orang dewasa saja yang telah memilki pengalaman mengecap pahit manis kehidupan mungkin itu tak terlalu bermasalah. Namun jika yang harus melakoni pilihan yang un common itu adalah bocah yang mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, itu yang jadi soal dalam kaca mata kita.
Bocah besi, bocah yang menghabiskan jeda-jeda waktu sepulang sekolah dengan memulung besi dengan cara yang mungkin tak terbayangkan dibenak kita selama ini, bahkan mungkin orang dewasa saja tak sanggup menjalaninya. Di bilangan kota Batam, bocah besi beraksi, menyelinap di pinggir jalan untuk mengintai targetnya; yaitu truk yang membawa sisa-sisa besi pabrikan yang akan dikumpul dan diolah di tempat penampungan.
Jika truk-truk itu sudah lewat, dengan gesit ia membelah jalanan beraspal, mengabaikan alur lalu lintas kendaraan yang siap mengintai nyawa mereka. Menaiki bak belakang truk , dan mengutip besi-besi yang dapat diambil lalu di berikan kepada temannya yang berada di bawah untuk kemudian di sembunyikan di parit jalan sebelum dijual kepada pengumpul.
Entah apa yang ada dibenak bocah besi, yang jelas pekerjaan itu dilakukan demi membantu ekonomi keluarga. Seolah mereka tahu benar kalau itu adalah kewajiban yang harus mereka emban layaknya orang dewasa yang mencari nafkah untuk anggota keluarganya. Dari besi yang berhasil didapatkannya, bocah besi mendapatkan sekitar 50 ribuan jika melakukan kegiatan itu siang sepulang sekolah, jika dari pagi biasanya bisa sampai 100 ribuan. Hasil jerih payah bertaruh maut itu diberikan kepada orang tua sesampai di rumah.
Kita yang tak biasa dengan hal seperti itu tentunya tak bisa membayangkan bagaimana bisa orang tua sampai tega menerima uang hasil jerih payah bertaruh nyawa anak yang menurut usia seharusnya ada dalam tanggungan dan lindungan orang tua. Apakah jeratan terpaksa telah sangat kuat menjerat leher orang tua? Tak perlu dibahas itu sebab masing-masing orang punya alasan tersendiri yang privasi tapi lebih banyak basi. Tapi alangkah lebih bijak, apapun alasannya seharusnya orang tua selagi masih mampu bertumpu di kedua kaki tak seharusnya membiarkan anak seperti itu.
*********
Bocah besi masih mengintai truk-truk yang lewat, agar tak ketahuan oleh sopir, bocah besi harus main kucing-kucingan dulu dengan keadaan, kemudian dengan cepat melesat bergelantungan di penghujung bak truk. Tanpa ragu menghadapi kemungkinan jatuh lalu diserempet kendaraan, atau resiko lainnya. Bocah besi, perlahan benar-benar menjelma menjadi judul yang dipakai “bocah besi”, kebal akan kerasnya hidup dijalanan dan kebal terhadap keadaan.
Bocah besi haruskah terus bergelantungan di bak truk-truk yang bersilewaran di jalanan? Sampai kapan masa kanakmu terserabut oleh pilihan hidup yang sebenarnya pahit itu? akankah kita menjadi relawan yang mengembalikan keceriaan kanak mereka atau kita memang sama-sama merasa selesa (nyaman) dengan keadaan itu dan terus mengabaikannya. Padahal banyak yang bisa kita lakukan sebenarnya, sebisa dan semampu kita dan dengan cara kita. Sekedar memberi tahu dan membaginya kepada sesamapun itu sudah cukup karena akan ada orang yang mendengar dan jika mereka mampu serta terpanggil jiwanya pasti juga akan mereka bantu tentunya dengan cara mereka.
Ruang untuk Pejuang
Ditulis marhamahza di taujihat pada Oktober 30, 2010
Jalan ini selalu menyisakan ruang bagi pengikutnya. Ruang untuk dikenang bagi para pejuang, juga bagi orang selainnya. Keduanya sama-sama meninggalkan jejak meski jejak masing-masingnya berbeda. Diantara jejak-jejak itu ada yang terlupa atau memang sengaja dilupa tapi tetap saja dia ada, sebab waktu telah merekamnya dalam lensa sejarah. Setidaknya jejak itu ada dalam memori masing-masing kita, jika tidak mana mungkin ada kata-kata dulu “dulu pernah ada…” yang terlontar dari perbendaharaan lisan kita.
Ruang yang disisakan para pejuang adalah ruang keteladanan yang menjadikannya dipanuti karena kesehariannya. Sekalipun diantara pejuang itu ada yang tak pernah dikenal zaman namun kebenaran perjuangannya abadi. Sebab apa yang kita nikmati hari ini adalah warisan darinya, anugerah yang kita peroleh dari tangan-tangannya. Bukankah diantara kita tak pernah tahu di back-up oleh tangan yang keberapa. Begitulah para pejuang menjaga keikhlasan dan kesabarannya dalam merintis kerja.
Selainnya, juga punya ruang yang disisakannya. Yaitu ruang untuk kita berkaca pada perjalanannya. Bahwa ternyata ada banyak karakter yang terkumpul disini, berbagai latar belakang, keadaan sosial dan keinginan. Ada yang bisa belajar dan menerima segala keadaan serta mengerti dengan apa yang harus dilakukan, dan mampu untuk bertahan -meski memang seharusnya begitu, sebab itulah yang dikehendaki dalam tarbiyahpada kita-. Namun tak bisa dinafikan bahwa ada hal-hal yang bertolak belakang, saat semua keinginan dan persoalam bergesekan dengan kondisi rill barangkali ada manusia-manusia kecewa, yang ujung dari kekecewaan itu bisa berbentuk macam-macam.
Dan disinilah kita berkaca kawan! Diantara yang kecewa ada yang lantas berpindah. Tapi tentu ini bukanlah suatu kesalahan, karena pada prinsipnya dakwah ini adalah jalan untuk merealisasikan kehendak yang Allah inginkan pada makhluk Nya. Maka diamanapun tempatnya asal tak lepas dari yang dikehendaki Allah sifatnya hanya masalah pilihan beserta yang terkait di dalamnya.
Yang jadi soalan adalah ketika ada yang kecewa, lalu kekecewaaan itu membuat diri dengan serta-merta apatis terhadap kebenaran. Bahkan ada yang sampai membenarkan diri melakukan hal-hal yang biasanya dihindari dengan alasan “kan ane gak disitu lagi” padahal itu adalah ajaran (syariat) bukan aturan jamaah. Astaghfirullah…
Maka saya, anda dan siapapun kita sudah sepantasnya memelihara dan merealisasi nilai-nilai yang telah diajarkan Allah melalui rasul Nya, bukan untuk menempatkan diri di ruang mana akan dikenang tapi karena memang itu yang Allah inginkan. Jika sudah begitu yang lainnya akan ikut besertanya.
(ditulis oleh Nan Tegar)
Aku Masih Ingat
Ditulis marhamahza di spirit pada Oktober 28, 2010
Cita! Acap betul kita berkawan dengan kata itu, saat semua pikir kita tertuju kesana, saat laut nyaris tak beriak, dan jalan ke depan nampak lurus tanpa hambatan. Namun, perlahan malu kita dengan kata itu, sebab banyak yang telah terjadi di luar rencana-rencana kita. Meski dalam palung hati masih terpendam adanya. Hanya kita memilih untuk tidak bergeming, tidak ingin menyinggung hati dan perasaan masing-masing. Namun seberapapun, jalan-jalan yang sering kita lewati dulu, selalu mencatat setiap derail canda, setiap kecewa, kekhawatiran dan sikap diam yang terpacu dan kuyu antara harapan dan ujian-ujian hidup kita.
Saat daun-daun berguguran tepat menerpa langkah, saat kuntum merekah di taman base camp kita, saat bunga yang sembarangan kuanggap tulip ketika melihatnya di balik jendela sekre, aku selalu mengatakannya serasa di negeri kincir, Belanda. Saat halilintar bersahutan di kaki langit Nya sewaktu kita menghadapkan wajah ke zona peristirahatan matahari atau saat rembulan wajah kita berselimut kelabu dan tenggelam dihujani air mata….
Apapun kita selalu punya cara untuk penawar itu semua. Aku masih ingat dengan filosofi tas mu itu…(bahkan setiap usilmu pun ingat..) walau sering kali putus asa membutakan jiwa mata kita, mata jiwa kita (begitukan lebih tepatnya) eh, tapi kalau mata punya jiwa itukan lebih dekat pada Gadhul Bashar dan bashirah yang tunduk pada pencipta Nya bukan pada tuan yang dititipkan mata). Aku juga tetap ingat kata tausiyahmu itu hai “orang yang tak ku kenal” “Seorang muslim itu tak boleh stress” begitukan katamu.. Baca entri selengkapnya »
REMUK SUJUD KAMI
Ditulis marhamahza di puisi pada Oktober 20, 2010
Keringnya ruh siang
Bertemu jiwa malam nan gersang
Takbir tersedak di rakaat pertama
tak serta doa berikutnya
sesuka berkelana
Patah rukuk kami
Remuk sujud kami
Tak memakna ia
Tak mengqalbu ia
Menggumpal rindu
Mencinta malam-malam syahdu
Dalam detak nafas tawadhu’
Rabb, diktekan kami mencintai-Mu
aku telah menjadi camar
Ditulis marhamahza di puisi pada Oktober 20, 2010
ini adalah kepakan sayap untuk kesekian kalinya di lautan berbeda.
terakhir kali aku terbang di ujung samudera sana,
namun tetap saja pengembaraan ini belum terasa cukup.
aku telah mencari puluhan tebing di tiap lautan,
sebab aku percaya akan selalu ada proses penyempurnaan diri
pada tiap persinggahan itu.
Hari ini aku diminta untuk terbang lebih tinggi dan berlawanan dengan arah angin. Sebuah kewajaran memang bagi camar untuk mengepak sayap ke tebing-tebing yang lebih tinggi, tapi bukanlah sebuah pilihan untuk menentang gerak angin, sebab di bawah juga ada ombak yang sedang berkecamuk.
Ini pilihan sulit namun sebuah kemestian untuk menjalaninya. Kemestian yang ditafsirkan dari sebuah ending keagungan diri. Sebatas mana si burung camar mampu mengendalikan sayap, menarikan lekukan indah di ritme-ritme sulit perlawanan angin. Ini adalah sebuah tantangan yang kan membuktikan kualitas sayapku, kerasnya pekikanku dan yang terpenting: kekuatan hatiku.
Di saat inilah kemudian ku kan menemukan satu lagi nilai pengembaraan dan perjuangan, meski harus menyiasati gerakan angin.
Selamat berjuang camar. Kepaklah sayapmu… buktikan pada mereka bahwa sejarahmu tak hanya di laut tapi juga di langit.



Komentar Terakhir